Profil Desa Labuhan Lalar Kec. Taliwang Kab. Sumbawa Barat
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengenalan terhadap suatu wilayah selalu diawali oleh proses pengamatan, penyelidikan bahkan penelitian yang dapat memakan waktu panjang atau pendek tergantung dari berapa banyak data dan informasi yang ingin didapat. Ketika penduduknya semakin beranekaragam, kegiatan seputar desa semakin bermacam-macam dan desa semakin terbuka bagi masuknya investasi dari luar, maka persoalan-persoalan yang timbul dari benturan-benturan kepentingan menjadi semakin banyak. Dalam kondisi sedemikian maka pengamatan yang cermat, penyelidikan yang teliti dan penelitian yang komprehensif akan mampu mengupas dan menyajikan fakta serta data yang dibutuhkan untuk mulai melakukan perencanaan.
Data dan informasi dibutuhkan untuk mengenali wilayah secara utuh dari segala aspek. Pengenalan terhadap wilayah ini merupakan dasar bagi tersusunnya perencanaan yang mampu mewadahi berbagai kepentingan dan mengarahkan perkembangan. Dalam konteks wilayah pesisir, posisi perencanaan penting karena secara fisik wilayah ini memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat kaya sehingga mengundang berbagai kepentingan masuk kedalamnya.
Desa Labuhan Lalar merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Taliwang. Dari empat belas (14) desa pesisir yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat desa Labuhan Lalar adalah Desa yang termasuk desa yang paling banyak memiliki nelayan atau sentralnya desa pesisir yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Desa Labuhan Lalar adalah desa pesisir yang berkembang karena kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam, yaitu penangkapan ikan di laut. Maju atau mundurnya usaha masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam di desa Labuhan Lalar ini berarti sangat dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang ada di dalam dan sekitar desa, kondisi pemanfaatan secara fisik wilayah pesisir dan pelaku-pelaku kegiatan di wilayah ini. Oleh karena itu untuk mencapai suatu taraf perkembangan wilayah yang makmur, berkelanjutan, berkeadilan dan demokratis diperlukan perencanaan yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi sambil tetap memperhatikan kelestarian alam, memberikan peluang secara setara kepada semua pihak dan dibangun atas kesepakatan bersama.
Perencanaan yang baik dapat tersusun bila data dan informasi pendukungnya lengkap dan pelaku-pelaku kegiatan yang mempengaruhi perkembangan wilayah mau duduk bersama untuk menyusun serta memutuskan perencanaan wilayah yang bersangkutan. Lebih jauh lagi, perencanaan yang baik baru akan berhasil bila dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu wilayah Desa Labuhan Lalar perlu berangkat dari proses yang baik, yaitu menyusun rencana wilayah bersama untuk pada akhirnya mendapatkan hasil untuk kebaikan bersama.
1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan profil desa adalah untuk mengetahui kondisi, potensi, dan permasalahan desa sebagai lokasi kegiatan, yang dideskripsikan dalam profil desa berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari masyarakat. Selanjutnya profil desa ini diharapkan mampu menyediakan informasi yang senyatanya, sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun kegiatan bersama dalam usaha membangun Desa Labuhan Lalar secara mandiri dan terpadu.
1.3. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu pengumpulan data primer (data diambil langsung dari masyarakat) dan pengumpulan data sekunder dari hasil-hasil penelitian dan laporan-laporan teknis,. Pengumpulan data primer terdiri dari: Pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur atau informal yaitu bertemu langsung dengan masyarakat yang diambil secara random/sampling untuk mendapatkan berbagai informasi tentang permasalahan yang mereka hadapi. Untuk mendapatkan data statistik (penduduk), luas wilayah, pola pemanfaatan lahan, kepemilikan dan status lahan dilakukan dengan pendataan langsung melalui kerjasama dengan Ketua RT di masing-masing dusun. Data yang diperoleh ditabulasikan dan dianalisis secara kualitatif. Kemudian dilakukan verifikasi data dan hasil analisis dengan masyarakat untuk memastikan kebenarannya. Selanjutnya hasil pengolahan dan analisis data dideskripsikan menjadi profil desa.
II. PERKEMBANGAN DESA
2.1. Sejarah Desa
Sejak berdiri Desa Labuhan Lalar telah mengalami berbagai masa kepemimpinan pemerintah yang dimulai pada saat terbangunnya kesepakatan warga pendatang dari Suku Sulawesi Selatan (Bugis, Mandar dan Makasar) dan Suku Ende (NTT) untuk mengangkat Daeng Manna sebagai Kepala Kampung pada masa sebelum kemerdekaan. Setelah Daeng Manna meninggal dunia, Kepala Kampung di gantikan oleh Daeng Nenang.
Pada Tahun 1951 – 1960, Kampung Labuhan Lalar dipimpin oleh Kepala kampong Caco Boka (disebut dengan Puah Guru). Kemudian pada Tahun 1961–1965 Daeng Hasan Basri menggantikan Caco Boka sebagai Kepala Desa. Setelah itu Daeng Basri digantikan oleh Fatawari EA. Karena ada suatu permasalahan yang akhirnya Fatawari EA digantikan oleh Abdul Haris. S yang pada saat itu masih menjabat sebgai Sekretaris Desa. Yang kemudian Abdul Haris. S menjadi Pjs. Kepala Desa. Untuk selanjutnya pada Tahun 1998 hingga Tahun 2007 Desa Labuhan Lalar di Pimpin/di Kepalai oleh A. Latief. My sebagai Kepala Desa.
Pada Tahun 2001 terbentuk Badan Perwakilan Desa ( BPD ) sebagai mitra Pemerintah Desa menggantikan peran dan Fungsi Lembaga musyawarah Desa ( LMD ).
Desa Labuhan Lalar terdapat 5 Dusun yang terdiri dari : Dusun Toroh, Dusun Bangsal, Dusun Wara’ A, Dusun Wara’ B dan Dusun Muhajirin. Di sebelah Selatan Desa Labuhan Lalar atau tepatnya di sebela Dusun Muhajirin terdapat Desa Lalar Liang. Meskipun bertetangga sangat dekat, desa ini memiliki karakteristik dan latar belakang sejarah yang agak berbeda. Areal persawahan, tambak dan kebun merupakan areal yang dominan di wilayah ini.
2.2. Struktur Pemerintah Desa
Untuk mengelolah suatu desa maka perlu dibentuk suatu struktur pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat. Adapun struktur Pemerintahah Desa Labuahan Lalar adalah sebagai berikut :
Kepala Desa
|
Sekretaris Desa
|
Kaur Umum
|
Kaur Perlengkapan
|
Kaur Keuangan
|
Kasi pemerintahan
|
Kasi Pembangunan
|
Kasi Usaha Ekonomi Desa
|
Kasi Trantib
|
Dusun Wara’ A
|
RT/RW
|
Dusun Wara’ B
|
Dusun Bangsal
|
Dusun Toroh
|
Dusun Muhajirin
|
RT/RW
|
RT/RW
|
RT/RW
|
RT/RW
|
Gambar 1 : Struktur Pemerintahan Desa
2.3. Sarana dan Prasarana Desa
Dalam rangka menyediakan pelayanan kebutuhan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, prasarana air bersih, pendidikan kesehatan, pemukiman, pengembangan potensi kelautan, perikanan, industri, jasa, perdagangan dan penunjang perekonomoian Desa lainnya. Air untuk kebutuhan rumah tangga di Desa Labuhan Lalar Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat dapat terpenuhi untuk masyarakat yang bersumber dari mata air, sumur gali dan pompa listrik. Kebutuhan air ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam hal air minum, mandi, cuci dan kakus.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan pra-sekolah, di Desa Labuhan Lalar telah terdapat satu unit Taman Kanak-kanak (TK) dan 1 Sekolah Dasar Negeri. Sedangkan kebutuhan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang berada di wilayah Desa Lalar Liang yang berjarak lebih kurang 1 Km dari Desa Labuhan Lalar, sehingga cukup dapat dijangkau oleh siswa dari Desa Labuhan Lalar dengan berjalan kaki, dokar dan dengan kendaraan bermotor lainnya.
Kebutuhan prasarana listrik masih dapat dijangkau oleh pasokan listrik dari PT. PLN Ranting Taliwang. Hingga saat ini 100% rumah tangga di Desa Labuhan Lalar telah terpenuhi kebutuhan akan energy listrik meskipun dengan mengalirkannya dari rumah satu ke rumah lainnya.
Untuk prasarana kesehatan cukup memadai untuk skala Desa yang didukung oleh keberadaan satu unit Puskesmas Pembantu yang di kelolah oleh seorang Bidan. Beberapa Posyandu yang ada juga sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kebutuhan penyuluhan dan layanan kesehatan reproduksi masyarakat. Sedangkan pelayanan kesehatan lainnya masih bergantung pada dokter maupun tenaga medis yang berada di Ibukota Kecamatan dengan jarak tempuh 10 Km.
Sarana perhubungan yang menghubungkan Desa Labuhan Lalar dengan Ibukota Kabupaten/ Kecamatan cukup memadai karena merupakan jalan Negara. Sedangkan jalan Desa yang menghubungkan antar dusun masih belum beraspal. Panjang jalan Negara yang meliputi Desa Labuhan Lalar mencapai 4 Km sedangkan jalan Desa mencapai 3,5 Km. Jarak Desa dengan Ibukota Kecamatan 12 Km.
Untuk menunjang kegiatan perekonomian telah terdapat toko atau kios dengan jumlah yang cukup memadai. Selain menjadi Desa Pesisir Desa Labuhan Lalar juga sebagai Desa perdagangan multi komoditas. Disamping itu juga terdapat Pasar Desa yang telah menjadi prasarana yang cukup membantu. Dan sarana olah raga baru tersedia satu lapangan sepak bola. Kemudian prasarana untuk peribadatan terdapat dua unit masjid dan tiga mushollah.
III. KONDISI FISIK WILAYAH, SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN
3.1. Geografi dan Administrasi
Desa Labuhan Lalar merupakan Desa Pesisir yang terletak dalam wilayah Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat dengan luas Desa mencapai 2.460 Ha dan letak geogrfisnya berada pada posisi 116º 49´ 0,27” BT dan 08º 48’ 53,90” LS. Adapun batas-batas wilayah Desa Labuhan Lalar adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Telaga Bertong
Sebelah Selatan : Desa Lalar Liang dan Desa Dasan Anyar
Sebelah Barat : Selat Alas
Sebelah Timur : Desa Mura Kecamatan Brang Ene
Sebagai Desa pesisir, Desa Labuhan Lalar mempunyai garis pantai sepanjang 3,71 Km dengan luas wilayah laut 1.484 Ha. Adapun luas wilayah daratan Desa Labuhan Lalar mencapai 2.460 Ha, dan terdapat 7,8 Ha merupakan wilayah potensial untuk tambak rakyat. Dan sebagian besar wilayahnya merupakan gunung dengan kecuraman mencapai 60 %. Dan hanya sekitar 17 Ha wilayah Desa yang merupakan wilayah pemukiman penduduk.
Gambar 2 : Peta Desa Labuhan Lalar
3.2. Fisiografi dan Kondisi Tanah
- Topografi
Kondisi topografi Desa Labuhan Lalar merupakan daratan rendah dengan kondisi lahan sebagian besar berupa lahan kering yang sangat tergantung pada musim penghujan. Ketinggian rata-rata pemukiman Desa Labuhan Lalar dari permukaan air 5 mdpl. Warna tanah sebagian besar hitam dan abu-abu dengan struktur sebagian besar lumpur berpasir. Curah hujan rata-rata mencapai 1.090 mm/tahun dengan jumlah bulan hujan 5 bulan dari bulan November hingga bulan April. Suhu udara rata-rata di Desa Labuhan Lalar mencapai 21 – 29 0C. Di Desa Labuhan Lalar terdapat 1 (satu) buah sungai.
- Gelombang Laut
Gelombang laut di pantai umumnya merupakan penjalaran gelombang yang ditimbulkan oleh angin di laut lepas. Desa Labuhan Lalar berbatasan dengan Selat Alas, yang terletak di Teluk Taliwang sangat rawan dari gelombang besar karena mendapat kiriman gelombang dari Perairan Selat Alas dan Samudera Indonesia. Tinggi gelombang bervariasi dari tiap-tiap lokasi tergantung pada letak geografisnya, tetapi umumnya sekitar 1 - 2,5 m.
- Pasang Surut
Tinggi pasang surut air laut di wilayah perairan Selat Alas pada umumnya berkisar antara 1 - 1,5 m. Pasang surut di Selat Alas mempunyai karakteristik yang unik akibat dipengaruhi oleh dua rambatan gelombang pasang surut yang berasal dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kondisi pasang surut tersebut dipengaruhi pula oleh kondisi aliran air yang melalui selat tersebut dan proses atmosfir skala global sehingga memberikan tambahan fluktuasi permukaan laut hingga 30 cm pada fluktuasi permukaan air yang disebabkan oleh pasang surut.
- Sirkulasi, Salinitas dan Suhu Air Laut
Sirkulasi air laut dilapisan permukaan (0-100 m) di perairan Selat Alas dipengaruhi dengan kuat oleh angin musim. Pada musim barat (Desember-Februari) arus mengalir ke timur yang mebawa air laut bersalinitas rendah (kurang dari 33,5 ppt) dari Laut Jawa. Sebaliknya pada musim timur (Juni-September), arah aliran air ke barat, dan perairan Flores didominasi oleh air Laut Banda yang bersalinitas di atas 33,5 ppt.
Di wilayah pesisir utara Pulau Sumbawa terdapat sistem arus pantai yang mengalir ke timur sepanjang tahun. Sirkulasi air laut Flores di lapisan kedalaman 100 m dipengaruhi oleh sistem sirkulasi skala besar yang meliputi Samudera Pasifik Barat dan Samudera Hindia.
Massa air dilapisan ini merupakan massa air Samudera Pasifik yang mengalir masuk melalui Selat Makasar. Sebaliknya di Samudera Hindia, di wilayah hingga 50 km dari pantai selatan Indonesia sirkulasi arusnyadidominasi oleh perkembangan dari Arus Pantai Selatan Jawa melalui proses upwelling/downwelling. Arus Pantai Selatan Jawa merupakan aliran sepanjang pantai ke arah timur hingga Daerah Sumbawa yang berlangsung sekitar bulan November hingga Juni. Antara bulan Juni-Oktober, sirkulasi air didominasi oleh aliran ke arah barat yang merupakan bagian dari sistem arus Ekuator Selatan di Samudera Hindia (Wyrtki, 1981).
Di sekitar perairan Selat Alas, suhu air permukaan biasanya turun sampai 25ºC karena massa air yang dingin dan kaya kan nutrien dari lapisan bawah terangkat ke atas. Selanjutnya menurut Wasilun dan Amin (1986), sebaran suhu vertikal menunjukkan bentuk yang normal, yaitu suhu tinggi di lapisan permukaan dan suhu menurun dengan bertambahnya kedalaman. Suhu rendah ditemukan di mulut selat bagian utara (isoterm 28,30ºC di lapisan permukaan, isoterm 26,50ºC di kedalaman 50 m) dan ke arah selatan suhu meningkat (isoterm 28,70ºC dan 27,50ºC).
3.3. Pemanfaatan Lahan dan Perairan
Luas lahan Desa Labuhan Lalar 2.460 ha (Data Kecamatan). Lahan tersebut dimanfaatkan untuk pemukiman penduduk 17 ha, persawahan 49 ha, pertambakan 11 ha, perladangan 47 ha, kebun 18 ha, hutan rakyat 918 ha tagalan 6 ha dan campuran 21 ha. Sedangkan luas pemanfaatan untuk wilayah perairan adalah 1.484 Ha yang digunakan untuk perikanan tangkap.
3.4. Kependudukan
Desa Labuhan Lalar memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.868 jiwa (730 KK) dengan kepadatan penduduk mencapai 155 jiwa per Km2. Kepadatan penduduk Desa Labuhan Lalar terhitung berada di atas rata-rata kepadatan penduduk Kabuapten Sumbawa Barat yang mencapai 63,43 jiwa/Km2.
Dari jenis mata pencarian, tercatat bahwa presentase terbesar dari masyarakat Desa Labuhan Lalar berprofesi sebagai nelayan sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini.
No.
|
Pekerjaan/ Profesi/ Mata Pencaharian
|
Jumlah
|
1.
|
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
|
18
|
2.
|
Pegawai Swasta
|
70
|
3.
|
ABRI/ POLRI
|
6
|
4.
|
Pensiunan
|
3
|
5.
|
Petani
|
42
|
6.
|
Pedagang
|
228
|
7.
|
Bakulan
|
116
|
8.
|
Petani Tambak
|
28
|
9.
|
Petani Ternak
|
20
|
10.
|
Pertukangan
|
120
|
11.
|
Nelayan
|
364
|
Sumber : Monografi Desa Labuhan Lalar Tahun 2009
Tabel 1. : Data Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Sebagian besar penduduk Desa Labuhan Lalar memeluk agama islam. Data berdasarkan agama dapat dilihat di tabel berikut :
No.
|
Agama
|
Jumlah (orang)
|
1.
|
Islam
|
2.868
|
2.
|
Kristen Protestan
|
-
|
3.
|
Kristen Katolik
|
-
|
4.
|
Hindu
|
-
|
5.
|
Budah
|
-
|
Tabel 2 : Data Jumlah Penduduk Menurut Agama
Jumlah penduduk usiah sekolah di Desa Labuhan Lalar masih tinggi, data berdasarkan jumlah penduduk usiah sekolah dapat dilihat di tabel berikut :
No.
|
Pendidikan
|
Jumlah (orang)
|
1.
|
Taman Kanak-kanak (TK)
|
120
|
2.
|
Sekolah Dasar (SD)
|
372
|
3.
|
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
|
61
|
4.
|
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
|
32
|
5.
|
Akademi (D-1/D-3)
|
24
|
6.
|
Perguruan Tinggi
|
4
|
7.
|
Pondok Pesantren
|
8
|
8.
|
Sarjana
|
9
|
Sumber : Monografi Desa Labuhan Lalar Tahun 2009
Tabel 3 : Data Jumlah Penduduk Usia Sekolah
Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin Desa Labuhan Lalar dapat dilihat di tabel berikut :
No.
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah Penduduk (orang)
|
1.
|
Laki – laki
|
1.434
|
2.
|
Perempuan
|
1.408
|
Sumber : Monografi Desa Labuhan Lalar Tahun 2009
Tabel 4 : Data Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
3.5. Peranan Kaum Perempuan
Perempuan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di desa, terutama dalam bidang sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, sedangkan dalam struktur kekuasaan dan pemerintahan desa hanya sedikit. Bekal keterampilan yang dimiliki perempuan , seperti membuat makanan, menjahit, menjadi dukun dan lain-lain. Industri rumah tangga pada umumnya ditangani oleh kaum perempuan,
Sumbangan perempuan terhadap pendapatan keluarga sangat bervariasi mulai dari tidak memberikan sumbangan sampai dengan yang penghasilannya lebih besar dari kaum laki-laki, dan ternyata hal ini tidak menjadikan beban psikologis dalam hubungan keluarga. Di samping itu perempuan melakukan Survival strategy dengan berbagai cara, antara lain pinjam meminjam uang, gadai, mengambil barang di toko untuk dibayar kemudian bagi keperluan khusus, berhutang pada pedagang keliling, memutar uang kas yasinan/pengajian dan memelihara ternak, selain melakukan kegiatan ekonomi utama.
Lembaga-lembaga yang berperan di desa dan secara nyata mempengaruhi kehidupan perempuan antara lain yasinan (lembaga informal keagamaan), Pembinaan Kegiatan PKK (Kursus dan Pelatihan), Simpan Pinjam Perempuan PNPM – Mandiri Pedesaan dan Pembinaan Koperasi Wanita Nelayan.
3.6. Perekonomian Desa
Sebagian besar (77 %) penduduk Desa Labuhan Lalar menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Data yang ada menunjukkan bahwa 308 keluarga penduduk merupakan warga nelayan perikanan tangkap. Walaupun tidak seluruhnya bermata pencaharian sebagai nelayan, namun perekonomian penduduk Desa Labuhan Lalar sangat di pengaruhi oleh corak kehidupan maritim yang kental.
Di Desa Labuhan Lalar untuk kelembagaan perekonomian desa seperti Badan Usaha Milik Desa, Bank dan lembaga-lembaga yang dikuasai oleh pemerintah desa tidak ada. Oleh karena itu, untuk mendukung perekonomian desa di Desa Labuhan Lalar terdapat pasar tradisional yang sudah cukup lama menjadi bagian dari ekonomi masyarakat Desa Labuhan Lalar dan Desa-desa lain di sekitarnya sebagai tempat pemasaran hasil perikanan dan pertanian. Dengan posisi geografis yang strategis, Desa Labuhan lalar merupakan Desa yang mempunyai sektor perdagangan cukup maju di bandingkan dengan Desa-desa pesisir lainnya. Peran strategis ini bila dikembangkan secara lebih baik, maka akan memberikan konstribusi yang signifikan dalam pembangunan perdagangan di Desa Labuhan Lalar.
3.7. Tradisi dan Adat Istiadat
Sebagai desa pesisir, Labuhan Lalar tidak terlepas dari beberapa tradisi nelayan, seperti :
a. Nyelama’ Dilao’ (selamatan pantai). Tradisi ini adalah acara sedekah laut yang mencerminkan rasa terima kasih nelayan atas rejeki yang didapatnya dari hasil laut.
b. Pencak silat, tradisi ini di lakukan pada saat penerimaan tamu, acara khitanan dan perkawinan.
c. Rabana adat, adalah alat musik yang dimainkan oleh beberapa orang dan di iringi dengan lantunan lagu. Alat ini di mainkan pada acara perkawinan, khitanan, dan acara-acara keagamaan.
Kewajiban sosial yang menjadi tradisi di Desa Labuhan Lalar adalah menyumbang seseorang yang sedang melaksanakan hajatan (pernikahan, kelahiran, khitanan, pindah rumah, dll). Sumbangan kaum laki-laki berupa uang, sedangkan kaum perempuan biasanya menyumbang bahan-bahan pokok (beras, mie, kecap, gula, roti, ayam) ditambah dengan uang atau berupa kado.
3.8. Tata Kelola Desa dan Program Pembangunan
Dengan berbagai upaya serta semangat ingin mensukseskan segala bentuk prograujudkan program-programm pembangunan Desa. Kepala Desa beserta seluruh jajaran Pemerintahan telah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan program-program yang telah dirumuskan secara bersama-sama antara pemerintah Desa dengan BPD serta seluruh elemen masyarakat, rumusan program tahun 2007 untuk dilaksanakan tahun 2008 tidak dapat dilaksanakan dengan baik, karena tahun 2007 dan 2008 adalah masa transisi penggantian pejabat pemerintahan namun beberapa program pembangunan fisik dan non fisik dapat terlaksana, walaupun sangat kecil dari segi bentuk dan anggarannya.
Adapun pencapain program pembangunan tersebut anatara lain :
a. Pembangunan Fisik
- Pembanguanan Pos Ronda 12 unit, lampu penerangan dan papan informasi masing-masing RT, sehingga pada tahun 2008 sarana keamanan RT telah dilaksanakan.
- Pembangunan jaringan air dan deker 2 unit (Dususn Wara’ A dan Wara’ B)
- Renovasi gedung Kantor Desa
- Pembangunan gerbang Dusun 5 unit.
b. Pembangunan Non Fisik
- Pemberdayaan perempuan seperti Pembinaan Kegiatan PKK, Simpan Pinjam Perempuan PNPM – Mandiri Pedesaan dan Pembinaan Koperasi Wanita Nelayan
- Pembinaan lembaga Ketahanan (LKD) Kelompok Mandiri Pangan Desa.
- Pembinaan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS)
- Pembinaan Kelompok Nelayan.
- Pembinaan Kelompok Peternakan
- Pembinaan kegiatan Pemuda dan Olahraga.
- Pembinaan Organisasi Sosial Kemasyarakatan.
c. Pelayanan Publik
Pelayan publik ini, masih sangat minim apabila dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat namun program yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten/Provinsi/Pusat berjalan terus dan semakin menampakan keberpihakan kepada rakyat, beberapa program yang telah terealisasi antara lain :
§ Penyaluran beras raskin (RASKIN).
§ Penyaluran Bantuan Langsung Tunai
§ Bantuan Nelayan dari Pemerintah Kabupaten berupa Kapal, sampan + mesin ketinting + jaring, mesin ketinting, lampu inverter, coll box, pancing dan jaring.
§ Bantuan rehab rumah kumuh dari provinsi tahun 2008.
§ Bantuan dana stimulan kepada masing-masing RT.
§ Gerakan Sejuta Pohon (GSP) oleh setiap warga.
Gambar 3 : Beberapa jenis – jenis bantuan yang sudah di serahkan kepada
masyarakat nelayan seperti : mesin ketinting, lampu petromak, cool box,sampan/perahu, lampu inverter dan kapal.
IV. ISU – ISU UTAMA
4.1. Lingkungan
Permasalahan kawasan pesisir dan pantai, yaitu perubahan akibat iklim dan bencana, misalnya angin puting beliung, banjir bandang, gelombang pasang (ROB), abrasi, pencemaran laut dan erosi pantai.
Di wilayah Desa labuhan Lalar pernah terjadi beberapa bencana alam yang mengakibatkan kerusakan rumah nelayan, yaitu:
a. Banjir bandang pada tanggal 26 Desember 2007 yang mengakibatkan kerusakan hampir semua rumah masyarakat di Desa Labuhan Lalar.
b. Gelombang pasang (ROB) pada tanggal 12 Juli 2010 yang mengakibatkan 34 rumah rusak berat dan 45 rumah rusak ringan di Desa Labuhan Lalar.
Gambar 4 : Banjir bandang di Desa Labuhan Lalar tanggal 26 Desember 2007
Gambar 5 : Gelombang pasang (ROB) yang terjadi di Desa Labuhan Lalar tanggal
12 Juli 2010
4.2. Status Lahan
Di Desa Labuhan Lalar, jarang sekali terjadi sengketa lahan. Walaupun ada sengketa lahan bisa diselasaikan secara kekeluargaan. Dan tidak merupakan suatu masalah yang sigifikan yang ada di Desa Labuhan Lalar.
4.3. Pertanian
Lahan sawah di Desa Labuahan lalar adalah sawah tadah hujan, sehingga penanaman padi hanya dilaksanakan pada musim hujan. Selama musim hujan (bulan November sampai bulan Mei) petani dapat melaksanakan dua kali tanam padi. Tanam kedua biasanya merupakan spekulasi petani bahwa hujan terakhir masih turun untuk membasahi lahan mereka. Namun sejak dua tahun terakhir ini akibat terjadinya perubahan musim petani kesulitan untuk menentukan saat yang tepat untuk mulai mengolah tanah.
Umumnya pengolahan tanah dimulai bila air diperkirakan sudah cukup memadai untuk mulai mengolah dan menanam padi. Pada musim kemarau sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman baik sayur-sayuran ataupun padi. Karena lahannya jauh dari sumber air, atau karena tingginya harga bibit, pupuk, dan obat-obatan.
4.4. Perikanan
Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah rendahnya hasil tangkapan yang diakibatkan oleh penangkapan ikan dengan caradestructive fishing. Selain itu sulitnya mengembangkan usaha dengan alat yang lebih baik dan kurangnya informasi mengenai upaya-upaya pengembangan usaha yang ada dan usaha alternatif lainnya.
Pengaruh musim dan cuaca buruk juga sering dihadapi oleh para nelayan akhir-akhir ini. Akibatnya banyak para nelayan untuk memilih tidak melaut yang di karenakan cuaca buruk. Untuk mengisi kegiatan pada saat tidak melaut, para nelayan memperbaiki alat tangkapan mereka dan memperbaiki sampan-sampan mereka.
Keadaan seperti inilah yang membuat perekonomian masyarakat di pesisir terganggu, karena mereka tidak punya pengahasilan. Walaupun punya alternatif lain hasil yang didapat tidak sebanding dengan pengahasilan mereka sebagai nelayan. Dan sebagian juga ada yang memaksakan dirinya untuk tetap melaut walau keadaan cuaca buruk, karena tidak ada pilihan lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Untuk perikanan budidaya terdapat 17 petak tambak rakyat yang masih aktif, jenis yang dibudidaya diantaranya adalah udang galah, udang manis dan mujair.
4.5. Pariwisata
Untuk mendukung dan menjadikan daerah pesisir Desa Labuhan Lalar sebagai daerah tujuan pariwisata masih kurang akan fasilitas pendukungnya. Yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor diantaranya belum adanya pemetaan pengelolaan wilayah pesisir dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri.
4.6. Perdagangan
Peran transportasi sangat mendukung untuk menunjang perkembangan suatu daerah. Oleh karena itu masalah sarana transportasi untuk menyalurkan suatu barang di Desa Labuhan Lalar sudah sangat lancer karena letaknya berada di jalur jalan Kabupaten.
Dengan posisi geografis yang strategis, Desa Labuhan lalar merupakan Desa yang mempunyai sektor perdagangan cukup maju di bandingkan dengan Desa-desa pesisir lainnya. Peran strategis ini bila dikembangkan secara lebih baik, maka akan memberikan konstribusi yang signifikan dalam pembangunan perdagangan di Desa Labuhan Lalar.
4.7. Industri
Untuk industri di Desa Labuhan Lalar tidak ada, karena kurangnya investasi baik dari swasta dan pemerintah.
4.8. Sosial dan Budaya
Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007). Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.
Salah satu pemicu timbulnya konflik antar nelayan adalah kondisi sosial ekonomi dan motivasi/perilaku yang ada pada masyarakat nelayan. Untuk itu, agar konflik dapat dihindari maka perlu dilakukan upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan nelayan dan perubahan motivasi/perilaku ke arah yang lebih positif. Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan(empowerment). Diharapkan dengan kegiatan pemberdayaan yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan maka konflik antar nelayan dapat dihindari.
Di Desa Labuhan Lalar sendiri konflik antar nelayan jarang sekali atau hampir tiidak pernah sama sekali. Karena tidak ada sebab – sebab yang khusus yang dapat menimbulkan konflik. Keadaan seperti ini didukung oleh kesadaran masyarakat itu sendiri untuk menjaga ketertiban dan keamanan desanya untuk tidak terjadi konflik.
4.9. Bencana Alam
Bencana alam merupakan kejadian alami yang berdampak negatif pada sumber daya pesisir dan laut di luar kontrol manusia. Beberapa macam bencana alam yang sering terjadi di wilayah pesisir dan merusak lingkungan pesisir antara lain adalah kenaikan permukaan air laut, gelombang pasang, tsunami, dan radiasi ultra violet.
Di Desa Labuhan lalar bencana alam yang sering terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut :
· Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
· Perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove.
· Meluasnya intrusi air laut,
· Ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir,
· Berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.
Sedangkan, dampak secara khusus yang terjadi di Desa Labuhan Lalar adalah masuknya air ke dalam tambak rakyat, ke perkampungan dan pasar.
4.10. Perubahan Iklim
Tanda-tanda perubahan iklim yang terjadi di Desa Labuhan Lalar terjadi pada bulan Maret s/d Juli terjadi gelombang besar d pinggir pantai. Dan pada bulan Agustus terjadi angin besar.
V. MODEL PENANGANAN ISU
5.1. Degradasi Lingkungan Pesisir
Terjadinya abrasi dan sedimentasi di wilayah pantai Desa Labuhan Lalar telah mengakibatkan tingginya kerusakan. Untuk mengatasi masalah ini beberapa cara telah dilaksanakan antara lain dengan melaksanakan gotong royong yang dilakukan oleh warga setempat untuk mengurangi dampak akibat bencana.
Disamping masyarakat setempat ikut terlibat dalam mengurangi dampak akibat bencana. Pemerintah Desa telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan bencana seperti :
· Secara Fisik :
- Akan dilakukan perbaikan pada beberapa meter tanggul yang rusak/jebol.
- Menguruk areal lokasi di samping tanggul untuk tempat relokasi rumah warga yang rusak.
- Memperlebar dan mempertinggi serta menambah volume panjang jembatan.
· Non Fisik :
- Kebijakan tentang tata guna lahan kawasan pantai yang rawan bencana, kebijaksanaan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta infrastruktur sarana dan prasarana, kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai.
- Melakukan cara untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat.
- Melakukan perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan.
5.2. Sosial Budaya
Untuk menyelesaikan suatu masalah/konflik yang ada di Desa Labuhan lalar adalah melalui rembug desa (musyawarah). Adapun proses penyelesain masalah/konflik yaitu melalui Tingkat RT, Dusun, Desa, dan Kepolisian :
- Di Tingkat RT, mempertemukan pihak-pihak yang berselisih guna mmencapai persetujuan untuk berdamai. Apabila masalah tersebut bisa di selasaikan , maka tidak perlu harus di bawah ke tingkat Dusun.
- Di Tingkat Dusun, yaitu berusaha untuk menyelesaikan pertikain antar pihak-pihak yang berselisih dan memfasilitasi ke Kepala Desa untuk mencari solusi dan melakukan rembug desa (musyawarah).
- Di Tingkat Desa, menyelesaikan pertikaian melalui rembug Desa dan meredam kemarahan antar pihak-pihak yang bertikai. Di Desa juga akan berusah menyelasaikan masalah atau mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Cara ini dilakukan untuk mengadakan pendekatan dalam rangka pembicaraan tentang langkah-langkah mencapai perdamian. Apabila pertikaian/konflik belum bisa terselasaikan Desa akan berkoordinasi dengan pihak yang berwajib guna diproses secara hokum.
- Di Tingkat Kepolisian, akan dproses sesuai dengan masalah/jenis kasus yang dilakukan dan akan di bawah ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan secara formal.
5.3. Ekonomi Masyarakat
Saat ini banyak program pemberdayaan yang mengklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat.
Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masayarakat diantaranya:
a) Masyarakat nelayan perikanan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut. Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional. Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya.
b) Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan. Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal. Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.
c) Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim.
d) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh.
Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka. Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh. Kebutuhan setiap kelompok yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok tersebut.
Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah pesisir lainnya. Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom up dan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran.
5.4. Infrastruktur
Berbagai bencana yang terjadi secara beruntun di Indonesia yang diakibatkan penggunaan tata ruang yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan menyebabkan akumulasi kerusakan yang terjadi terus menerus dan menyebabkan terjadinya bencana. Berbagai bencana yang terjadi dapat diatasi dengan perencanaan keruangan wilayah berdasarkan daya dukung dan kemampuan lingkungan. Berbagai faktor daya dukung dan kemampuan lingkungan dipertimbangkan untuk mengidentifikasi dan mitigasi bencana dalam suatu wilayah.
Kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengatasi ancaman bencana di pesisir adalah dengan diproyeksikan melalui managemen penggunaan lahan yaitu landuse policy (kebijakan Penggunaan Lahan). Wujud campur tangan dan manifestasi manusia terhadap alam adalah tercermin dari penggunaan lahan. Penggunaan lahan akan memberikan warna dalam perencanaan tata ruang berbasis bencana. Landuse policyberbasis bencana dapat menunjukkan arahan penggunaan lahan yang diterapkan sebagai adaptasi penanggulangan bencana. Pengamanan dan persiapan yang dapat dilakukan untuk menghindari kerusakan ditunjukkan di arahan penggunaan lahan. Konsep tata ruang yang berlandaskan kebencanaan Oleh karena itu, berdasarkan persebaran tingkat resiko terjadinya bencana di pesisir dibuat landuse policy untuk mengamankan unsur-unsur yang terancam terkena dampak bencana.
Pengamanan unsur-unsur yang terancam bencana melalui landuse policy dapat diterapkan dengan melakukan tindakan adaptasi terhadap lingkungan. Tindakan adaptasi dapat berupa pembangunan infrastruktur (pembuatan tanggul, pemecah gelombang dan pembuatan talut) yang dapat mengurangi ataupun menghambat ancaman bencana. Pembangunan infrastruktur tergantung dari jenis bencana dan elemen/unsur yang terancam. Akan tetapi, satu pembangunan infrastruktur dapat juga untuk menanggulangi ancaman dari beberapa macam bencana. Disamping itu, proses adaptasi terhadap bencana tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur.
Proses adapatasi yang dapat dilakukan misalnya, pembangunan bangunan air untuk mencegah bencana banjir dan kekeringan, penghijauan di daerah pesisir untuk mengurangi abrasi, pemindahan pemukiman di daerah yang tidak rawan bencana misalnya di pinggir bukit yang tidak rentan longsor, perilaku masyarakat yang mengurangi pemompaan air tanah di daerah pesisir.
Dengan diketahuinya berbagai macam ancaman bencana di suatu wilayah pesisir, maka akan mempermudah tindakan adaptasi untuk mengatur tata ruang wilayah yang perlu dilakukan sehingga pembangunan suatu infrastruktur dapat berfungsi ganda, tidak saling tumpang tindih dan bahkan tidak memacu ancaman bencana yang lain.
5.5. Kelembagaan
Pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan usaha ekonomi bisa diberikan, terutama dalam rangka membekali masyarakat dengan usaha ekonomi alternatif, antara lain yaitu : peningkatan pengetahuan dan wawasan lingkungan, pengembangan keterampilan masyarakat, pengembangan kapasitas masyarakat, pengembangan kualitas diri, peningkatan motivasi masyarakat untuk berperanserta, dan penggalian dan pengembangan nilai tradisional masyarakat.
Desa Labuhan Lalar telah membentuk lembaga-lembaga masyarakat untuk usaha pengurangan isu antara lain :
- Untuk pengamanan wilayah perairan laut Desa Labuhan Lalar telah di bentuk suatu lembaga Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Gili Puyung melalui SK Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumbawa Barat Nomor : 523/52/VI Tahun 2008 dan SK Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor : 287/800.05/Dikanlut/2008.
- Di bidang perekonomian :
Telah dibentuk Koperasi-koperasi yang diantaranya adalah :
· Koperasi Mina Pertiwi
· Koperasi Mina Jaya
|
· Koperasi Gusoh Putih Ma’ Wara
· Koperasi Syariah
|
Gambar 6 : POKMASWAS melakukan patroli gabungan bersama kepolisian.
Gambar 7 : Sarana pengawasan untuk pengamanan perairan laut
Gambar 8 : Melakukan Pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat pesisir untuk berpartisipasi dalam kelembagaan koperasi dan kelembagaan – kelembagaan lainnya.
VI. PENUTUP
Demikian profil Desa Labuhan Lalar Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat disusun untuk memberikan gambaran/ informasi yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan masukan dalam penyusunan program pemeberdayaan masyarakat pesisir dan penentu kebijakan lebih lanjut bagi pihak-pihak yang berkepentingan.